Sunday, July 19, 2009

Hukuman Batin


Arun Gandhi masih berusia 16 tahun dan tinggal bersama orangtuanya di sebuah lembaga yang didirikan oleh kakeknya, Mahatma Gandhi, di tengah-tengah kebun tebu, 18 mil di luar kota Durban, Afrika Selatan. Mereka tinggal jauh di pedalaman dan tidak memiliki tetangga. Tidak heran bila Arun dan dua saudara perempuannya sangat senang bila ada kesempatan pergi ke kota untuk mengunjungi teman atau menonton di bioskop.

Suatu hari ayahnya meminta Arun untuk mengantarnya ke kota untuk menghadiri konferensi sehari penuh. Arun sangat gembira dengan kesempatan ini. Tahu bahwa Arun akan pergi ke kota, ibunya memberikan daftar belanjaan untuk keperluan sehari-hari. Selain itu, ayahnya juga minta untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah lama tertunda, yaitu memperbaiki mobil di bengkel.

Pagi itu, setiba di tempat konferensi, ayahnya berkata, "Ayah tunggu kamu di sini jam 5 sore. Lalu kita akan pulang ke rumah bersama-sama."


Segera Arun menyelesaikan pekerjaan yang diberikan ayahnya. Kemudian, Arun pergi ke bioskop, dan dia benar-benar terpikat dengan dua film John Wayne sehingga lupa waktu. Begitu melihat jam menunjukkan pukul 17:30, Arun berlari menuju bengkel mobil dan terburu-buru menjemput ayahnya yang sudah menunggunya sedari tadi. Saat itu sudah hampir pukul 18:00.

Dengan gelisah ayahnya bertanya "Kenapa kamu terlambat?"

Arun sangat malu untuk mengakui bahwa dia menonton film sehingga dia berbohong, "Tadi mobilnya belum siap sehingga aku harus menunggu".

Padahal tanpa sepengetahuannya, ayahnya telah menelepon bengkel mobil itu. Dan kini ayahnya tahu kalau Arun berbohong.

Lalu Ayahnya berkata, "Sepertinya ada sesuatu yang salah dalam cara ayah membesarkanmu sehingga kamu tidak memiliki keberanian untuk menceritakan kebenaran kepada ayah. Untuk menghukum kesalahan ayah ini, ayah akan pulang ke rumah dengan berjalan kaki dan memikirkan semua ini."

Lalu, Ayahnya dengan tetap mengenakan pakaian dan sepatu yang melekat mulai berjalan
kaki pulang ke rumah. Padahal hari sudah gelap. Arun tidak bisa meninggalkan ayahnya, maka selama lima setengah jam, Arun mengendarai mobil pelan-pelan di belakang beliau, melihat
penderitaan yang dialami oleh ayahnya hanya karena kebohongan yang Arun lakukan.

Sejak itu Arun tidak pernah berbohong lagi.

"Sering kali aku berpikir mengenai kisah ini dan merasa heran. Seandainya Ayah menghukumku sebagaimana kita menghukum anak-anak kita, maka apakah aku akan mendapatkan sebuah pelajaran mengenai tanpa kekerasan? Aku kira tidak. Aku mungkin akan menderita atas hukuman itu tapi melakukan hal yang sama lagi. Tetapi, hanya dengan satu tindakan tanpa kekerasan yang sangat luar biasa, sehingga aku merasa kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Itulah kekuatan tanpa kekerasan."

Baca selengkapnya......

Wednesday, July 15, 2009

4,5 Milyar Rupiah Buat Mbah Surip


"Sekarang mungkin orang tidak akan memperhatikan, tapi nanti.....hanya Tuhan yang tahu." Itu yang pertama kali terfikirkan oleh saya ketika membaca berita ini. Silakan baca sendiri:

"Liputan6.com, Jakarta: Penantian Mbah Surip terbayar sudah. Setelah menunggu 20 tahun, lagu ciptaannya Tak Gendong meledak di pasaran. Hampir setiap hari wajah pria bernama lengkap Urip Ariyanto itu menghiasi layar kaca. Bahkan, jadwal manggung off air-nya sudah penuh hingga Agustus mendatang. Tak hanya itu, belum genap dua bulan dirilis, lagu berirama reggae tersebut telah diunduh oleh satu juta pengguna ponsel tanah air. Dari situ saja, Mbah Surip dipastikan mengantongi uang sebesar Rp 4,5 miliar.

Kesuksesan ternyata tidak mengubah sifat dan penampilan Mbah Surip. Walau mengaku telah membeli rumah dan mobil, ia tetaplah Surip yang sederhana dan bersahaja. Kalau disuruh memilih, bapak empat anak bergelar insinyur itu lebih senang naik ojek ketimbang mobil barunya. "Kalau enggak ada kerjaan ya ngojek," ucap Mbah Surip."

Baca selengkapnya......

Monday, July 13, 2009

Duniaku Hitam


Aku terbangun di sebuah kasur empuk yang entah di mana. Kepalaku sedikit pusing, kuingat bahwa semalam, atau mungkin lebih tepatnya tadi pagi, aku menghabiskan waktu di Marble. Terlalu banyak masalah yang harus kuhadapi di dunia ini rasanya, dan segelas kangaroo (campuran vodka dan martini) obat yang kurasa bisa mengatasi semuanya untuk saat ini.

Jadi...”Tas siapa ini? Seperti tas cewek?” pikirku dalam hati.

Kukenakan lagi baju yang berserakan di lantai, kubereskan penampilan dan kubawa tas itu ke lobi hotel. Aku terus berjalan menuju resepsionis, dan menanyakan tentang kamar yang baru saja kugunakan.


“Sudah dibayar mas...” jawab resepsionis cantik itu.
“Ohya? Sama siapa?” kataku sambil memasukan kembali dompetku ke dalam kantong belakang celana.
“Mmmm....kalau di sini tercatat Olivia Banur, Mas.” Katanya sambil melihat ke monitor komputer di mejanya dan beberapa bukti pembayaran hotel yang ada di hadapannya.
“Oh gitu ya...terima kasih.” Tutupku.
“Sama-sama...” jawab resepsionis itu sambil tersenyum sebagaimana yang mungkin manajernya telah ajarkan selama ini.
“Manis juga...” hanya dalam hati kuberkata.

Tapi, tak kuikuti naluri lelaki itu karena aku masih akan bertualang lagi hari ini menyelesaikan bukuku selanjutnya, ‘Panduan Maksiat di Indonesia’. Bukuku sebelumnya sukses di pasaran dan terjual lebih dari 150.000 kopi hanya dalam waktu setengah tahun saja, ‘Panduan Maksiat di Jakarta’. Maklumlah, minat masyarakat untuk bermaksiat memang lagi tinggi-tingginya. Toko buku juga memilihkan tempat yang sempurna untuk memajang bukuku ini, di rak bertema ‘Wisata’.

Besok aku harus berkeliling lagi mencari ladang maksiat baru yang mungkin menarik minat masyarakat. Aku tidak harus pusing menghadapi serangan pendapat publik yang menentang keberadaan ini, toh ada ratusan orang tidak dibayar dan terkenal yang akan bersedia membelaku. Mereka akan serempak berkata bahwa bukuku ‘mengangkat sesuatu yang tabu di tengah masyarakat agar layak diperbincangkan dan menyadarkan masyarakat bahwa semua ini ada di sekitar mereka’. Padahal intinya aku butuh uang dan tempat-tempat maksiat itu butuh sedikit promosi.

Begitulah perjalananku dari satu tempat hiburan malam ke tempat hiburan malam lainnya. Tak jarang kejadian-kejadian seperti di hotel itu terjadi lagi. Kebebasan bukan lagi kata yang tepat untuk menggambarkannya.

*****

Pagi ini aku terbangun di hotel lagi, dengan wanita lagi, dan menjalani aktivitas yang sama lagi, menyusun ‘Panduan Maksiat di Jakarta’, mengangkat isu yang dianggap tabu di tengah masyarakat sehingga layak untuk diperbincangkan atau........layak untuk dipromosikan?

Siang cukup terik, tubuhku mulai lemas karena belum makan siang. Kusinggahi salah satu tempat makan terbaik di Jakarta. Tentunya bukan tempat hiburan malam, soalnya mereka tidak pernah menyediakan makanan enak. Makan sudah, tapi lemasnya makin menjadi. Tambah lagi sendiku terasa tidak nyaman. Aaaahh! Apa ini?

Aku tidak tahan lagi, rasa sakit itu memaksaku pergi ke dokter terdekat.

“Anda sudah lama jadi pecandu?” kesimpulan dokter sambil terus menuliskan beberapa resep di atas kertas kecil di tangannya.

Terhenyak aku dituduh pecandu, “Pecandu apa dok?”
“Anda saya beri resep untuk mengurangi rasa sakitnya, tapi saya sarankan, tapi harus...untuk kebaikan anda juga... sebaiknya anda periksa darah di lab.” Dokter menutup pembicaraan sambil menyerahkan kertas resep itu kepadaku.

Aku jadi semakin bingung dengan pembicaraan tadi, pecandu apa maksudnya? Seingatku tak pernah kumasukan barang-barang haram itu ke dalam tubuh lewat mulut atau lewat suntikan. Tapi sebaiknya kupastikan saja bagaimana hasilnya di lab nanti.

*****

Hasil lab positif, ada narkotika di dalam darahku. “Darimana datangnya?” itu tema besar yang menggantung di kepalaku...hmmm

Kuceritakan semuanya pada Sonny, editor bukuku yang juga menjadi sahabatku akhir-akhir ini. Kuceritakan setahap demi setahap perjalanan hidupku akhir-akhir ini. Dia terhenyak juga rupanya. Dalam fikirannya aku memang bengal tapi tak mungkin memasuki daerah hitam yang bernama obat-obatan terlarang itu. Apa yang membuatku menghasilkan tes yang seperti itu? Kesalahan lab kah? Kami terhening berdua...

“Kamu pernah tidur dengan siapa saja?” tiba-tiba Sonny membuka diam.
“Banyak mungkin...aku tidak ingat lagi...” jawabku.
“Ga papa...siapa saja yang kamu ingat? Akhir-akhir ini?” sambungnya.
Kucoba mengingat kembali....”Mitha....Dewi...hmmm....tadi pagi kurasa yang di sebelahku Karina....San...”
“KARINA!?!?!!?!?” pekik Sonny mengagetkanku.
“Pacarnya mati overdosis satu bulan yang lalu!” sambungnya.
“Apa hubungannya?”
“Boleh jadi mereka berdua juga pecandu. Tapi bukan itu berita besarnya brow...”
“Hah?”
“Gosipnya dia juga positif AIDS...”
“AAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRGGGH!!!” teriakku tak tertahankan.

Kata-kata itu tak terharapkan dan lagi tak pernah kubayangkan. Apakah betul demikian? Tentu aku sudah sekarat.

”AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRGGGGHHH!!!” kali ini mataku mulai berkaca-kaca. Sementara Sonny hanya bisa memandangiku dengan tatapan yang penuh iba. Tapi inilah mungkin konsekuensi gaya hidupku yang tak aman, menerobos semua rambu-rambu kehidupan yang sudah pernah kupelajari di pesantren dulu.

*****

Kubereskan pakaianku pagi ini. Kukemasi mereka satu persatu ke dalam koper besar yang selama ini menemaniku jika bepergian ke luar kota. Aku berpikir, sekarat sudah pasti pada tubuhku. Aku tidak perlu lagi mendengarkan dokter berkata yang sama. Lagipula, penyakit ini belum ditemukan obatnya. Kurasa saat ini aku butuh dekat dengan ayah, ibu dan kampung halaman dimana aku akan.....dikuburkan.

Buku tidak lagi kulanjutkan, hidupku sudah hancur, tapi aku ingin mengakhirinya di dekat mereka, dua orang yang mungkin paling kusayangi. Tempat kembali yang tidak akan pernah menolakku.

*****

Bukittinggi, 15 September 2009.
Aku pilih berjalan kaki menyusuri jalanan kecil menuju Candung. Di situ kedua orangtuaku tentu tak mengira kedatanganku akan sedemikian tiba-tibanya. Kulihat hamparan sawah yang menguning di kiri dan kanan jalan...mendamaikan jiwa yang bingung hendak berkata apa ketika bertemu mereka berdua. Sudah 3 tahun lebih aku tidak pulang...seperti apa rumahku pun aku tak lagi ingat.

Kulihat dari kejauhan, seorang Ibu tua sedang memegang sabit di tangannya dengan caping masih terpasang rapi di kepala. Tak lupa selembar sarung batik menutupi dari perut sampai ke bawah lutut. Selanjutnya disambung sepatu bot dengan bekas tanah di sana-sini. Dia ibuku.

Aku tak ingin berlari karena beratnya beban yang kubawa dalam hati. Kucium langsung tangannya.

“Eeh...kenapa kau pulang?” kalimat itu tidak diucapkan dengan nada atau ekspresi kemarahan, justru penuh kerinduan dari seorang ibu yang tak pernah kehabisan cinta dan kasih sayang untuk diberikan pada anaknya. Sekilas memperhatikan kerut-keriput di wajahnya, membuatku sedih tak kepalang. Di satu sisi aku pulang sebagai penulis besar di Jawa, tak kalah dengan teman-temanku yang pegawai PERTAMINA atau kepala bank di Bandung. Tapi tak bisa kulepaskan kenyataan bahwa aku pulang sebagai pesakitan. Fakta terakhir ini yang membuat kemudian air mataku tak tertahankan mengalir.

“Ayolah masuk dulu...menangis pula. Ada apalah ini?”

Aku tidak menjawab pertanyaan ibu. Kubiarkan dulu bahagiaku bertemu ibu dan kemudian ayah memenuhi segenap hatiku. Ibu dan ayah pun kemudian tidak berusaha mengorek terlalu dalam karena mungkin kasihan karena aku baru saja datang.

Esoknya, barulah kusampaikan cerita itu. Kurasa, untuk apa menyimpan rahasia lagi untuk seorang yang sebentar lagi akan mati. Sudah bukan saatnya aku menyimpan apa pun tentang diriku. Reaksi mereka pun tidak akan berpengaruh banyak, toh aku pun akan mati. Lebih baik aku jujur dan menebus dosaku di sisa umurku ini.

Muka ayah memerah, menahan amarah. Tapi ayah bukan seorang yang melampiaskan marah pada anak-anaknya tanpa berbatas. Biasanya ayah menyampaikan dulu kekesalannya pada ibu, barulah ibu menyampaikannya pada kami, anak-anaknya.

“Sudah kukira, pesantren itu tidak membuatnya menjadi anak yang kita idamkan. Dia punya ilmu yang tinggi, menang berdebat, tapi miskin amal. Dia gunakan ilmunya justru untuk menghalalkan yang haram! Sekarang dia balik ketika semuanya sudah di akhirnya!” begitu sesal ayah yang terucap pada ibu.

*****

Perlahan, mereka mulai bisa menerima semuanya. Meski sesekali jika teringat, Ibu menitikan air mata juga. Entah bagaimana kubalas kasih sayang ibu yang luar biasa ini, anaknya sudah berbuat salah, tapi masih juga ia teteskan air mata, bahkan dalam do’anya untuk kesembuhanku di kesudahan shalatnya. Ayah, biasalah lelaki lanjut usia, lebih banyak diamnya tapi kadang juga bercerita tentang kebunnya tak henti-henti. Tapi lelaki tak pernah menangis, ayah hanya terdiam bila ingat penyakitku.

Hariku sudah mendekat...kupikir apa yang bisa kulakukan sebelum semuanya kutinggalkan. Kala lewat anak-anak kampung berkejaran, kurasa aku akan mengajar mereka tentang apa yang kudapat di Jawa. Banyak ilmu menulis yang bisa kutularkan pada mereka. Siapa tahu di antaranya akan lahir HAMKA baru yang mewarnai dunia dengan ilmunya yang berguna.

Kuhabiskan setiap hari kini dengan mengajarkan mereka baca tulis, bukan berarti mereka tak dapatkan semua itu di sekolah, hanya sebuah penajaman ilmu tambahan agar mereka lebih hebat lagi. Demikian kulalui hari demi hari....menatap ajalku yang sudah mendekat.

Hmmm....boleh kuceritakan apa yang sebenarnya dirahasiakan oleh para malaikat? Ketakutanku terlalu berlebihan dan menyebabkanku berbuat kesalahan besar. AKU TIDAK PERNAH DATANG KE DOKTER UNTUK MEMASTIKANNYA! Dan ajalku masih jauh...sangat jauh. Dan para malaikat itu mungkin sedang tertawa memandangiku yang bodoh ini, tapi mereka juga senang menyadariku kembali ke jalan yang ini.

“AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGGGGGGHHHHHHHH”



Baca selengkapnya......

Sunday, July 12, 2009

Koin Kuno



Suatu pagi seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan baju baru, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lelaki ini ingin memulai perjalanan lainnya mencari pekerjaan. Saat menyusuri jalan sepi, tiba-tiba kakinya menendang sesuatu. Penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.

“Ah, hanya sebuah uang koin lama,” gerutunya kecewa.

Meskipun demikian, ia tetap membawa koin itu di kantongnya. Saat menunggu lampu merah untuk menyebrang, si lelaki memainkan uang koinnya di tangan. Peristiwa ini diperhatikan oleh seorang lelaki di sebelahnya yang kemudian bertanya,


“Boleh saya lihat?“ katanya sambil menengadahkan tangannya.

Merasa tak berharga, lelaki tadi menyerahkan koinnya pada lelaki di sebelahnya itu.


Lelaki itu kemudian menawarkan 30 dolar untuk membeli koin kuno tersebut, ternyata ia seorang kolektor. Tentu saja permintaan itu tidak ditolaknya.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan uang di tangannya. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia berpikir bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan kotak makanan.

Sesudah membeli kayu seharga 30 dolar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang. Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat lemari. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan lemari. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dolar kepada lelaki itu. Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya lemari yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dolar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dolar. Lelaki itu pun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang. Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dolar. Pada saat itu seorang copet keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata,

“Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja kan? Apa yang diambil oleh penjahat tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin lama yang kutemukan tadi pagi”.

Inspirasi :
Kalau memang kita awalnya tidak punya apa-apa, mengapa harus sedih ketika Tuhan mengambilnya?

Baca selengkapnya......

Ramadhan Memohon Syafaat



Di akhirat kelak semua amal kebaikan dapat menghadiri penghitungan dosa beserta pahala umat manusia. Amal kebaikan datang dengan wajah yang sangat indah, cerah, layaknya bulan purnama. Sementara kejahatan dan dosa datang dalam bentuknya yang hina dan buruk rupa.

Ramadhan merupakan bulan di mana ibadah puasa telah diwajibkan. Pada hari kiamat ia terlihat lebih menonjol karena amat indahnya. Suatu ketika Ramadhan datang menghadap Allah SWT, memohon agar diberikan kesempatan untuk memberikan syafaat kepada umat manusia yang melaksanakan puasa dengan baik di bulan Ramadhan.


Allah bertanya, “Apa tujuanmu datang ke sini, Ramadhan?”

Ramadhan kemudian menjelaskan keinginannya. Ia meminta Allah memakaikan mahkota surga kepada setiap orang yang telah berpuasa di bulan Ramadhan. Allah memperkenankan permintaan tersebut dengan menganugerahkan 1000 mahkota kepada setiap hambaNya yang berpuasa di bulan Ramadhan.

Tapi tak cukup itu, Ramadhan meminta lagi agar setiap orang itu diberikan syafaat untuk membebaskan 70.000 orang yang berdosa besar dari siksa neraka. Lagi-lagi Ramadhan meminta, agar setiap mereka dikawinkan dengan 1000 orang bidadari. Setiap bidadari itu akan diikuti oleh 70.000 dayang. Untuk kenyamanan mereka dalam menikmati indahnya surga, mereka pun diberi buraq sebagai tunggangan.

Ramadhan masih tidak mau beranjak dari hadapan Allah meski semua permintaannya sudah dipenuhi oleh Allah.

"Apa lagi kehendakmu, ya Ramadhan?", tanya Allah.

Ramadhan kemudian meminta Allah menempatkan mereka yang mengerjakan puasa Ramadhan bersama-sama dengan para nabi di surga Firdaus. Allah pun memperkenankan permohonan Ramadhan dengan tambahan setiap orang diberikan 100 taman yang luas yang dihiasi permata merah. Setiap taman dilengkapi dengan 1000 istana yang maha indah.

Aneh...luar biasa buat saya. Kali ini saya merindukan Ramadhan tahun ini, 1430 H. Sudah beberapa tahun saya justru tidak senang mengetahui Ramadhan datang. Soalnya....hmmm tidak bisa saya sampaikan...intinya bete aja kalau Ramadhan sudah menjelang. Nah, sekarang Ramadhan sebentar lagi datang, dan hati ini sudah tidak sabar untuk melaksanakan puasa....tapi suasananya.

Sungguh berat puasa di kota besar seperti Bandung. Godaan banyak dan kadang sudah tidak rasional lagi. Orang ‘gila’ ada di mana-mana yang siap memancing emosi dan tentu saja membatalkan ibadah yang sudah digadang-gadang akan berjalan dengan tenang. Ya Allah, limpahkanlah rahmat Ramadhan kepada seluruh muslim di dunia....

Baca selengkapnya......

Obama Jelalatan



Fitnah itu luar biasa! sebetulnya tulisan ini tidak dibuat untuk mendukung pihak-pihak tertentu dalam pertarungan antara ideologi Timur (muslim) dan Barat (liberal). Tapi isu pemutarbalikan fakta dan propaganda media yang dilakukan oleh pihak Barat, sudah sejak lama menjadi perhatian khusus umat Islam. Sampai-sampai Karen Armstrong (peneliti hubungan antar agama) menyatakan bahwa penyebab utama umat Islam sering bertentangan dengan Amerika adalah ketidakadilan, beliau mengatakan bahwa umat Islam menghargai kebebasan, tapi mereka sangat benci dengan ketidakadilan.

Oke...back to Obama, sebelumnya dalam salah satu forum, ditampilkan foto Obama yang sedang memelototi pantat salah satu peserta konferensi G8. Kemudian ditambahkan juga satu foto lain yang mungkin menambah maksud si penulis bahwa Obama ‘jelalatan’. Ditambahkan kemudian dengan kalimat penjelas yang semakin membentuk opini bahwa Obama memang tertarik pada pantat seksi tokoh J8 (delegasi muda G8) yang lewat di depannya.


Kemarin saat melihat kembali bagaimana sebetulnya peristiwa itu terjadi di televisi, ternyata gerakan Obama justru karena membantu seorang peserta konferensi, wanita berkulit hitam yang ada di belakang sebelah kanannya untuk maju ke depan. Hmmm.....

Ini bukan kali pertama, pada saat demo di Iran sedang hangat, salah satu kantor berita dunia memutarbalikan fakta dan opini publik dengan menyatakan bahwa foto sekumpulan orang yang memenuhi lapangan menentang hasil pemilu. Padahal foto aslinya telah diterbitkan oleh kantor berita dunia lainnya yang tak kalah kuat dan memperlihatkan kebohongan kantor berita pertama, bahwa ternyata foto itu dipotong pada bagian wajah Ahmadinejad. Ternyata foto itu adalah foto Ahmadinejad di hadapan para pendukungnya dan bukan demo memprotes hasil pemilu Iran. Sekadar klarifikasi, kedua kantor berita ini adalah kantor berita Barat.

Dunia liberal memang semakin hari semakin menakutkan. Demi meningkatkan penjualan, atau bahkan memang dengan misi khusus yang dibebankan oleh organisasi-organisasi bawah tanah (freemasonry, zion, illuminati dll.) media Barat menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hmmm....media mana yang seharusnya kita percaya?

Baca selengkapnya......

Indonesia : Menangi Kompetisi Sofware Dunia


Ini lagi berita membanggakan dari luar negeri, masih tentang Indonesia kita tercinta.

“Jakarta - Tim Big Bang dari Institut Teknologi Bandung mengharumkan nama Indonesia di Kairo, Mesir. Kemenangan diraih tim yang membawa aplikasi bernama MOSES itu.

Seperti dikemukakan dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (10/7/2009), Tim Big Bang sukses meraih kemenangan dalam kategori Mobile Device Award dalam Imagine Cup 2009.

Di posisi selanjutnya, dalam kategori yang sama, terdapat tim dari Brasil dan Kroasia. Imagine Cup merupakan kompetisi piranti lunak tingkat dunia yang diselenggarakan oleh Microsoft.

Tim Big Bang terdiri dari David Samuel, Dody Dharma, Dominikus Damas Putranto dan Samuel Simon. Mereka menang dengan proyek bertajuk MOSES (Malaria Observation System and Endemic Surveillance).

Aplikasi MOSES menggabungkan teknologi client runtime dengan aplikasi di PDA untuk melakukan diagnosa dan analisis terhadap pasien yang diduga terkena malaria secara cepat. Solusi ini diharapkan dapat membantu masyarakat yang berada di daerah terpencil agar dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara cepat dan tepat.

Salah satu yang menarik, Big Bang membuat tokoh digital (avatar) bernama Marceline yang akan membantu petugas kesehatan dalam diagnosa. Marceline akan bertanya pada pasien beberapa hal terkait malaria, kemudian jawaban pasien akan diolah dengan teknologi voice recognition.”

Source: detik.com

Baca selengkapnya......

Indonesia : Eye-B Pod




Penggunaan komputer tentu tidak menjadi hal yang asing lagi bagi generasi saat ini. Hampir setiap orang membutuhkan computer untuk memudahkan menyelesaikan pekerjaannya sehari-hari, atau hanya sekedar mencari hiburan. Dan tentu saja bagi pengguna computer, piranti penunjuk (mouse, touchpad, trackpad,dll) menjadi hal yang sangat penting dalam mengoperasikan computer tersebut. tentu bagi kita yang memiliki tubuh lengkap dan sehat tidaklah sulit menggunakan piranti penunjuk yang telah ada, tapi bagaimana bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik pada bagian lengan, mengalami cedera pada lengan, gangguan saraf lengan dan berbagai hal lainnya sehingga mereka tidak mampu untuk menggunakan piranti penunjuk tersebut?

Berdasarkan data statistik dari Depsos 2009 yang didapat, di indonesia saja dari 14 provinsi yang telah terdata ada sekitar ±850.000 penderita cacat tubuh di bagian lengannya, dan juga berdasarkan statistik WHO , di tahun2008 sekitar 8-10% dari populasi manusia di dunia menderita cacat. Walaupun telah ada undang-undang yang mengatur mengenai orang cacat, dalam kenyataannya mereka masih tersisihkan dari dunia kerja, karena keterbatasan mereka dianggap menghalangi mereka untuk berproduktif. Padahal kenyataannya adalah tidak, dibalik keterbatasan fisik mereka, mereka masih mempunyai kemampuan yan sama dengan orang-orang yang sehat tubuhnya. Dari masalah ini muncullah keinginan dari para penderita cacat untuk dapat memperoleh persamaan hak di berbagai bidang ,termasuk kemudahan dalam pengaksesan informasi yang bisa didapatkan melalui komputer dan internet.


Hal inilah yang menjadi dorongan bagi sekelompok alumni universitas Bina Nusantara untuk mengembangkan sebuah piranti penunjuk yang berbeda dari piranti penunjuk konvensional yang telah ada, yaitu Eye-B Pod yang merupakan singkatan dari Eye-Based Pointing Device (Piranti Penunjuk Berbasiskan gerakan Mata).

Alih-alih menggunakan tangan untuk mengoperasikan piranti penunjuk, mereka mencoba untuk memanfaatkan gerakan mata agar dapat mengendalikan kursor pada layar computer. Hal ini tentu dapat membantu mereka yang memiliki keterbatasan fisik terutama pada bagian lengan untuk dapat menggunakan computer dan memberikan kesempatan agar mereka dapat aktif terlibat dengan perkembangan dunia teknologi sekarang ini.

Software ini dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi Computer Vision yang mana merupakan bagian dari kecerdasan buatan. Untuk bisa menggunakan piranti ini, user hanya perlu menggunakan sebuah webcam standard yang harus diletakkan tepat diatas layar monitor dan diarahkan ke pengguna.

Pengguna hanya perlu melirik ke bagian tertentu (atau dapat dibantu dengan gerakan kepala) yang ingin dilihat dan secara otomatis kursor akan bergerak menuju lokasi yang dilihat pengguna. Lalu bagaimana jika pengguna ingin melakukan klik seperti sama hal nya pada mouse biasa? Untuk melakukan 'klik' pengguna hanya perlu melakukan kedipan secara perlahan. Kedipan kiri untuk klik kiri dan kedipan kanan untuk klik kanan. Berkedip merupakan pola alami yang dialami oleh setiap manusia oleh karena itu kedipan kedua mata yang dilakukan secara singkat/reflek dan bersamaan tidak akan dianggap sebagai proses 'klik'.

Eye-B Pod juga dapat meningkatkan efisiensi dalam menggunakan computer,karena pengguna tidak perlu terlalu bergantung pada mouse konvensional, seraya menggunakan gerakan mata. Pengguna tetap dapat melakukan berbagai aktivitas lainnya seperti menulis,menggambar,minum kopi selagi membaca atau melakukan operasi lainnya denngan komputer

Lalu adakah kelebihan lainnya??? Eye-B Pod hanya membutuhkan sebuah webcam standar!! Selain nantinya setelah setelah selesai dikembangkan, software ini akan dijual dengan harga yang sangat murah agar bisa dijangkau oleh setiap lapisan masyarakat. Dan tentunya sebagai pengabdian kepada para penyandang cacat, software ini juga akan diberikan secara gratis kepada para penyandang cacat yang memerlukannya.

Saat ini software masih dalam tahap Research and development. Untuk kedepannya Eye-B Pod akan dikembangan dengan ditambahkan modul voice recognition (pengenalan suara) sehingga pengguna tidak lagi memerlukan tangan untuk pengoperasian computer. Perangkat ini akan sangat membantu bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik.

Karya ini telah lolos penjurian tahap II dan menjadi nominasi INAICTA (Indonesia ICT Award) 2009 pada tanggal 5 Juli 2009 kemarin.
“Kami berharap karya ini dapat dimanfaatkan dan menjadi teknologi tepat guna khususnya bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik sehingga akan terbuka kesempatan besar agar mereka bisa berproduktif secara optimal dan memperoleh persamaan hak di berbagai bidang kehidupan ” ujar dari salah anggota tim pembuat Eye-B Pod

Eye-B Pod – Innovative wireless & handsfree pointing device software

Source: kaskus.us

Baca selengkapnya......

Wednesday, July 8, 2009

Cintaku dan Dia



Jilbabnya tak membuatku tergoda...aku bukan ingin berdusta kalau tunduknya itu yang memikat. Mengapa matanya terus menuju ke bumi ketika berpapas dengan lelaki? “Dia tidak percaya diri!” Kesanku bersuara dalam kepala menuduhkan sebab atas wajahnya yang selalu tak pernah bisa kupandang lepas karena dia menunduk selalu. Ahhh...tapi mana mungkin seorang yang tidak percaya diri itu menjadi ketua keputrian di DKM Al Marhamah, mesjid kampus.

Lalu apa rahasianya? Tak puas rasanya hanya melihat sebagian atas, sebagian samping, atau sebagian belakang wajahnya itu. Ingin rasanya kukumpulkan potret-potret tak utuh itu menjadi satu gambaran Annisa Mulia. Gadis berkerudung bermata indah itu.

*****

“Tugas kalian di bagian ini sampai bulan Agustus. Dalam tiga bulan itu akan ada ujian sebanyak tiga kali yang tidak akan diberitahukan kapan dan apa temanya. Jadi kalian jangan lupa belajar ya...” tutup Dokter Mardah, staff bagian Obstetri dan Gynekologi RS Universitas Negeri Bandung.

Beliau baru saja menyampaikan pengarahan karena kami berpindah bagian sebagai salah satu kewajiban mahasiswa ‘co-ass’ di RSUNB. Kutatapi satu-satu wajah anggota kami yang baru. Kami berbeda, karena daya tampung di bagian Obgyn (kandungan) yang besar dan jumlah staffnya yang juga banyak, dua kelompok ‘co-ass’ digabung menjadi satu. Ada Indra, Jani, Giska, Frans, dan...si gadis kerudung bermata indah....Tak kuperdulikan lagi orang baru di sebelahnya itu, entahlah siapa namanya. Bagaimana caranya kudapatkan nama bidadari surga ini? Bagaimanaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!?!?!?!?!?

“Plak...” tepukan Jani tiba-tiba menyadarkanku dari bayangan indah sang bidadari.
“Bengong aja!” sambung Jani menyapaku. Dia teman sekelompokku dulu waktu kuliah, karenanya cukup dekatlah kami. Bukan dekat pacaran, tapi sekadar sahabat saja. Dia lihat mataku yang kembali ke target operasi.
“Astaghfirullooooh! Ini anak...matanya emang ga pernah absen klo ngeliatin cewek.” Cela Jani sambil meminggangkan tangannya.

“Yah...maklum, naluri seorang pria sejati...” balasku dengan lagak seperti salah satu iklan di TV.
“Namanya siapa Jan?” sambungku.
“Fatma, Annisa Mulia Rasyid...” jawab Jani. Sebentar kemudian sang bidadari sudah pergi ke kantin, rupanya pagi itu dia tidak sempat sarapan di rumah.
“Akhirnya sekelompok lagi kita...” dan demikianlah akhirnya aku harus mengakhir penerawangan itu dan berbincang hangat tentang berbagai hal bersama Jani, sahabatku yang kembali satu kelompok itu.

*****

Demikianlah akhirnya aku tahu panggilan gadis bermata indah itu adalah Acit. Anak Kiai Gugun Ginanjar, pemilik Pondok Pesantren Virtual Darut Takwa, Gegerkalong Hilir, Bandung juga. Berat juga sepertinya untuk mendekatinya.

Hari-hari pertama di minggu pertama kami sekelompok hanya kulewati dengan senyuman sapa saja. Ternyata anaknya membalas senyum itu dan membuat hatiku semakin bergetar lebih kencang. Minggu kedua aku mulai berani berbicara sepatah dua patah kata dengannya, kadang betul-betul bertanya tentang pelajaran dan kadang sekadar kangen dengan senyumnya yang bagaikan cahaya matahari yang menembus lipatan-lipatan awan di sore hari.

Sehari tanpanya terasa bagai setahun harus menderita. Tapi tentunya tak mungkin buru-buru untuk menyatakan. Mendekati wanita itu seperti memegang belut, semakin diremas, semakin ia melancit terlepas. Perlahan saja...kubangun kedekatan-kedekatan kecil itu sedemikian rupa. Hingga satu hari...

*****

Laparnya aku, sudah jam 11 tak sempat sarapan, langsung ke RS tadinya. Aku minta izin pada ketua kelompok untuk makan di kantin. Saking laparnya, kulahap habis sepiring nasi goreng seafood yang dibuatkan kantin RS dalam 5 menit saja. 15 menit kemudian kuhabiskan membaca sedikit catatatn yang kusimpan dalam buku kecilku. 30 menit kemudian barulah aku tersadar bahwa Acit di sana juga, setelah semua yang lain kembali ke bagiannya. Lagi-lagi dia tidak sempat sarapan di rumahnya sepertinya. Ini saatnya kukira...setelah dua setengah bulan.

Kuambil posisi di depannya sebelah kanan. Kami dibatasi oleh meja. Ia baru saja selesai dari makannya dengan memegang sebuah buku berjudul Snack For The Soul di tangannya.
“Rupanya dia suka buku jelek itu? Buku karangan Assep Purna Mulyanto yang disebut-sebut motivator sukses itu sebelum ternyata dia tertangkap kamera wartawan sedang menikmati pelayanan di salah satu panti pijat plus-plus yang langsung mencoreng karirnya.” Begitu pikirku dalam hati.
“Kok suka sih?” tanyaku membuka bincang sambil telunjuk tangan kananku menunjuk pada buku yang sedang dibacanya itu.
“Lho kenapa?” jawabnya heran dengan ekspresi bercampur senyum yang tidak lepas dari raut bersih itu.
Walaupun sudah melihat untuk kesekian kalinya, semenjak kami sekelompok, masih saja aku dipaksa membeku beberapa detik setelah melihat wajah itu.
“Pengarangnya kan ngaco...yang ditulis ternyata Cuma karangan doank, aslinya bejat.” Sambungku.
“Yah...aku ga tau pengarangnya, yang aku baca kan bukunya. Tapi isinya bagus kok, ngapain mikirin yang nulis. Bukankah hikmah itu bisa diambil dari mana saja?” jawabnya diplomatis. Susah aku menjawabnya...kudiamkan sajalah sambll tersenyum-senyum kecil kayak orang gila.

Terpatung aku kembali menatapnya. Kurasa benar ini saatnya untuk mengungkapkan rasa agung yang membuat ras manusia terus bertambah ini. Tapi nafsukah atau cinta? Ah apa bedanya pikirku.
“Cit...” tiba-tiba meluncur dari mulutku bagai peluru nyasar yang terlepas entah dari senjata yang mana.
“Ya...” jawabnya sambil menatapku sejenak, kemudian kembali pada bacaannya.
“Aku....” dingin rasanya kakiku...menggantung di lidah bagian posterior ucapanku.
“...ingin lebih dari sekedar teman...” aaaaaaaaaaaaaaa....khirnya keluar juga dari mulut ini. Sial! Menyesal aku melepaskan kata-kata itu. Tapi kukuatkan diri untuk tetap tenang seperti normal.
“Kenapa?” kali ini dia bertanya sambil tak menoleh padaku.
“Ya...aku ingin lebih dari sekedar teman...mungkin aku....cinta..” belum selesai aku merangkai kalimat, Acit tiba-tiba mengemasi bukunya dan meninggalkan kantin.

Heran aku melihatnya, mungkinkah dia tidak suka? Ataukah itu penolakan?

Esoknya dan esoknya lagi, Acit seperti menghindar dariku. Obrolan kami kini tak lagi sempat panjang seperti dulu-dulu. Semua berakhir dengan dua atau tiga kali berbalas kalimat. Heran...atau mungkin ini sekadar prasangkaku saja yang berlebihan.

Matahari tak lagi seindah dulu, awan terasa membakar dan angin sepoi bagaikan topan. Di kosan tak hentinya kuputar Dealova pertanda rasa hati yang sedang kualami.

aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu
aku ingin menjadi sesuatu yang mungkin bisa kau rindu
karena langkah merapuh tanpa dirimu
oh karena hati tlah letih

aku ingin menjadi sesuatu yang selalu bisa kau sentuh
aku ingin kau tahu bahwa ku selalu memujamu
tanpamu sepinya waktu merantai hati
oh bayangmu seakan-akan

kau seperti nyanyian dalam hatiku
yang memanggil rinduku padamu
seperti udara yang kuhela kau selalu ada

hanya dirimu yang bisa membuatku tenang
tanpa dirimu aku merasa hilang
dan sepi, dan sepi

selalu ada, kau selalu ada
selalu ada, kau selalu ada

Satu hari libur, kusempatkan ke toko buku Alamedia, toko buku terbesar di Bandung. Harapanku membuang bayangan-bayangan yang kuanggap telah berakhir dengan penolakan itu. Naik ke lantai berikutnya, lantai berikutnya lagi hingga lantai lima. Kulirik sebuah pojok buku-buku agama. Lantaran tren Ayat-ayat Cinta, semua buku agama itu ada CIntanya. Kuambilah satu yang covernya tampak indah, seorang wanita berhijab dengan cadar menutup setengah wajahnya. Kubalik halaman-halamannya dan terbuka satu yang menarik hatiku, “Wanita yang baik itu untuk lelaki-lelaki yang baik pula...” sebuah kalimat menghentak akal sehatku. Sejenak aku termenung dengan buku dalam genggaman,

“Mungkinkah aku belum sebanding dengannya?” itu pertanyaan yang menyingkap tabir penolakan dulu itu. “Mungkinkah dia merasa aku memang tak pantas dengannya?”

Kubuka lagi halaman berikut, terbius juga aku dengan buku yang satu ini. “Seperti cintanya Ali dan Fatimah, yang tak pernah terucap, tak pernah memberi ruang untuk setan, bukan lewat pandangan atau berduaan, hanya hati mereka berdua yang merasakan.”

“Astaghfirullah...”

Suara azan Maghrib terdengar memasuki ruangan dari mesjid di luar sana. Tanpa dikomando, tiba-tiba aku tergerak untuk sujud di Mesjid lagi.

*****

Semenjak itulah segala ibadah itu terjaga...tak pernah lepas satu pahala wajib rasanya. Teman-teman bilang aku sudah menjadi makhluk berbeda. Kami lulus, diwisuda dan tidak pernah berkumpul lagi. Bukan tak saling rindu, hanya saja masing-masing sibuk dengan pengurusan PTT dan lain-lain dokumen kelulusan.

Sedang serius memandangi pengumuman di papan tiba-tiba sebuah undangan berpindah ke tanganku dari tangan...Jani. Senangnya bertemu dengannya lagi. Hmm...tapi undangan itu menarik perhatianku. Annisa Mulia Rasyid dan Habiburrahman El Syakieb. Luar binasa! Aku menatapnya tak percaya. Tapi aku bukan yang dulu lagi...tidak terbelalak mataku seperti dulu, hanya sebuah kata terucap di dalam hati, “Innalillahi...” Allah yang menentukan maka Dia yang akan memutuskan.

Jani kemudian lanjut bercerita tentang hal menarik di masa co-ass dulu, dan kuceritakan pula ceritaku, termasuk tentangnya, Annisa. Jani pun menjelaskan,
“Dia pernah cerita kepadaku, bukannya dia menolakmu, tapi dia takut pada Tuhannya. Dia pun menyimpan rasa yang sama denganmu....” terangnya.
“Mana mungkin?” tak percayaku.
“Kau pikir wanita berjilbab itu malaikat tanpa hasrat? Mereka juga manusia biasa. Hanya saja mereka mengikuti aturan yang mereka tahu. Ketika belum tahu kau menyimpan rasa, Acit yakin masih bisa mengendalikan. Tapi ketika kau sudah mengungkapkan, dia takut rasa itu mendapat umpan yang salah. Makanya dia seperti menjauh darimu.” Lanjutnya.

Aku tidak percaya sambil memandangi nama lelaki di kartu undangan itu. Nama yang seharusnya berisi namaku. Azan...kembali bergema. Tapi tak seperti dulu, kini artinya lain buatku. Semenjak penolakan itu, berjamaah bukan lagi pantangan karena lama buatku, zikir sebuah keharusan, dan tahajud adalah kenikmatan. Mungkin inilah yang pernah diajarkan Imam Ghazali dulu, “Latihlah tubuhmu terlebih dahulu, dan berdoalah Allah melimpahkan hidayahNya dan meluruskan niatmu.” Mudah-mudahan Allah telah meluruskan niat ini.

Aku tidak pernah mendapatkan cinta Annisa. Tapi kurasa saat ini hanya cintaNya yang bisa menutupi pedih itu. Dan tak akan pernah kubuat Dia cemburu lagi.............

Ajari aku ‘tuk bisa
Menjadi yang Engkau cinta
Agar ku bisa memiliki rasa
Yang luar biasa untukku dan untukMu

Ku harap Engkau mengerti
Akan semua yang kupinta
Karena Kau cahaya hidupku, malamku
‘tuk terangi jalanku yang berliku

Hanya Engkau yang bisa
Hanya Engkau yang tahu
Hanya Engkau yang mengerti, semua inginku

Mungkinkah semua akan terjadi pada diriku
Hanya Engkau yang tahu
Ajari aku ‘tuk bisa mencintaiMu



Ajari aku ‘tuk bisa mencintaiMu Ya Allah....




Baca selengkapnya......